Gunung Gede Pangrango: Indah, tapi Misterius | fsendjoyo@blogspot.com
Ini adalah pertama kalinya gw kesampaian naik gunung. Semuanya berawal saat 28 Mei 2015, Saat itu cewek gw (yang sekarang udah jadi mantan :hiks) ngambek gara2 pengen ultahnya di rayain di puncak gunung. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya gw ga bisa wujudin kemauannya.
Oke, bak gayung bersambut, ternyata di tanggal 3 gw dapet ajakan dari temen lama gw buat naik ke Gunung Gede. Dalam hati gw berbisik, "Buset, gunung Gede. Kebayang itu gunungnya dari jauh aja udah tinggi n gede banget, lah ini mau gw naikin?"
Akhirnya setelah membulatkan tekad, gw iyakan ajakan temen gw. Setelah mengurus keperluan SIMAKSI, akhirnya gw mempersiapkan segalanya demi bisa berangkat kesana. Gw beli sepasang sepatu gunung biar lebih safety (karena emang gw belum pernah punya sepatu gunung).
Tanggal 6, gw memutuskan berangkat ke Gunung Gede lewat jalur Cibodas. Temen2 gw udah nyampe duluan dan nunggu disana. Gw lebih lama karena harus berangkat dari Cikarang, sementara yang lain berangkat dari Bogor, Cianjur dan termasuk 1 temen gw berangkat dari Bandung. Oia, kita total 8 orang, 6 orang lelaki dan 2 orang perempuan. Dengan 3 orang diantaranya, Kang Rizki, Kang Andri dan Kang Diki adalah pendaki2 senior yang udah expert muncak ke beberapa gunung, termasuk Semeru. Sisanya adalah Irwan, Helda (ade), Agung, Gw, dan doi (sebut saja Mawar yang sudah jadi istri orang).
Akhirnya gw sampai di Cibodas jam 12 malem. Saat itu cuaca cerah banget, banyak berkilauan bintang dan bulan purnama pun lagi cantik2nya. Pendakian rencananya dimulai jam 4 subuh, jadi begitu nyampe Cibodas, gw putuskan buat makan, terus lanjut tidur. Tapi emang dasarnya gw agak susah tidur dalam kondisi seadanya, alhasil gw akhirnya ga bisa tidur.
Ditengah-tengah ke-tidak-bisa-tidur-an gw saat itu, si Ibu warung tempat kita numpang tidur tiba2 nyeletuk, "Iya, jadi waktu sekitar 2 minggu lalu, ada pendaki cewek yang meninggal itu, disemayamin di warung ibu sini waktu nunggu ambulance & keluarganya jemput, tuh disitu (sambil nunjuk sebuah dipan yang dipake tidur temen gw). Seketika gw browsing mbah Google tentang berita ini dan.... beneran. Ternyata emang ada kejadian beberapa minggu lalu ada seorang pendaki cewek yang meninggal di Suryakencana , yang menurut beritanya sempet kesurupan beberapa kali sampai akhirnya meninggal dunia (semoga amal ibadah almarhumah diterima di sisi Allah SWT..Amiiinn)
OK, gw ketiduran dan kebangun jam 3 pagi. Jam setengah 4 pagi, kita briefing persiapan berangkat. Setelah mengecek barang bawaan, pasang headlamp (jam 4 subuh itu gelap gulita cuy!), diawali dengan bismillah dan doa bersama, akhirnya kita berangkat. Waktu itu gw bareng juga sama 3 orang pendaki dari Jakarta sampai Pos Simaksi. Mereka katanya udah biasa naik ke Gede, dan dulunya biasa ngecamp di puncak selama 1 sampai 2 minggu. Tapi kita barengan cuma sampai pos Simaksi aja ternyata.
Dengan riang gembira, gw lari2 kecil begitu masuk pintu pos simaksi awal. Langsung di teriakin temen gw',
"Eh jangan lari2 b*go, masih jauh ini. Lo pikir tamasya ke Ancol?"
OK, dan gw pun nurut..hahaha karena tau ini masih awal dan jauh banget ke puncak, ya gw jalan santai aja. Dari Pos Simaksi ini, jalur pendakian masih terbilang datar dan didominasi sama batu yang tersusun rapi.
Baru sekitar 1km dari pintu simaksi, gw dari jauh kita lihat ada beberapa warga ngegotong tandu (yang gw ga tau itu pendaki udah meninggal atau masih hidup saat itu). HOROR meeennnn!!! Pertama kali lo baik gunung, baru jalan sekitar 1 km lo liat orang ditandu..!! Disitu gw makin banyak dzikir, berdoa dan pasrah sm Allah SWT. Disisi lain, temen2 gw jg good banget berusaha menenangkan kami para pendaki pemula dan para cewek2 yang ikut, sambil trus ingetin buat dzikir, berdoa, dan jangan ngelamun.
Beberapa saat kemudian, kita memutuskan berhenti sejenak buat sholat Subuh di daerah Telaga Biru . Selepas sholat subuh, kita mulai jalan lagi. Lanjut, kita akan lewat track Rawa Denok yang instagram-able banget. Jalurnya ky jembatan kayu bersusun lumayan panjang (sayang fotonya udah ga ada, bisa googling ya.. :D). Setelah melewati jalur rawa ini kita akan ketemu jalur bebatuan yg mulai terjal (OK, pendakian sebenarnya dimulai). Tapi jangan khawatir, kanan kiri akan banyak kita temuin pepohonan yang masih rapet, teduh, sejuk dan udara yang bener2 seger (wangi aroma khas pepohonan hutan).
Sebenernya disini gw udah mulai merasa hal yang agak sedikit janggal. Yes, semenjak ngelewatin track Rawa Denok, ada seekor lebah hutan yang terus ngiung2 mengitari gw setiap kali gw jalan (cukup aneh karena lebah ini terbang mengelilingi badan gw, tanpa mengganggu gw, dan anehnya cm badan gw doang). Tapi gw ga terlalu ambil pusing, karena gw mikir ini lebah ga ganggu gw.
OK, lanjut jalan lagi, kita ketemu Air Panas. Jadi, Air Panas ini track-nya cukup unik, bentuknya adalah air terjun yang mengalir di atas jalur dan pinggirnya cuma di batasin tambang (cukup horor karena air panas ini gemercik di atas kepala lo, sebelah kanan lo jurang, dan ini LICIN..!!). Oh iya, baru inget sebelum Air Panas ini, kita sempat memutuskan buat istirahat dan ketiduran sekitar 1,5 jam di jalur pendakian (tidur bersandarkan tas carier masing2). BTW, ini lebah masih terus terbang mengelilingi gw. Bahkan pas gw tidur di jalur pendakian, dia masih tetep ngiung2 ngelilingin gw -__-
Setelah jalur ini, jalur pendakian didominasi anak tangga bebatuan yang tersusun cukup rapi. Agak bikin ngos2an karena jalur udah mulai naik (dengkul ketemu dengkul). Setelah itu kita sampai di Pos Kandang Batu. Ini tempat duingiinnn banget rek! Ada yang bilang titik suhu terendah gunung Gede ada di Pos Kandang batu ini (ga tau bener apa ngga, yang jelas ini tempat adem banget dibanding tempat2 lainnya). Di Pos ini ada beberapa pendaki yang mendirikan tenda (mungkin karena jalurnya deket sama jalur air panas) dan kita pun memutuskan buat beristirahat disitu (makan coklat, chiki2, foto2, dll). Setelah cukup, kita lalu melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya dan sampailah kita di Pos Kandang Badak.
Kandang Badak ini bisa dibilang spot favorit para pendaki buat nge-camp (selain Alun-alun Suryakencana tentunya), karena disini ada sumber mata air yang masih alami dan berlimpah (termasuk ada toilet juga :D). Berhubung Kandang badak ini penuh banget, kami memutuskan buat nge-camp di puncak Gunung Gede aja. Setelah bersih2 dan isi penuh botol air mineral, kita lanjutin perjalanan ke puncak. OK, setelah Kandang badak ini, kita akan ketemu sama persimpangan jalur pendakian Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Karena dari awal kita mau ke Gunung Gede, ya kesanalah kita menuju.
Dari Kandang Badak ini, jalur pendakian makin terjal bikin dengkul cenat cenut ky lagu Sm*sh (Jalur dengkul ketemu dada, udah bukan lagi dengkul ketemu dengkul). Jalurnya berupa campuran tanah, batu dan akar2 pohon yang berbentuk anak tangga setinggi perut atau lebih. Awalnya gw sempat menerka kalau puncak udah ga jauh lagi, karena setiap ketemu pendaki yang baru turun dari arah puncak, mereka selalu bilang "Ayo semangat bang, puncak 10 menit lagi" dan pernyataan itu pun di dukung dengan pengelihatan gw yang melihat awan di atas langit ini kerasa deket banget keliahatannya (dan ternyata itu semua hanya bualan semu gaes, jangan pernah percaya kata2 itu).
Baiklah, gw nyerah dan lebih sayang dengkul gw, teman2 gw pun berpikiran demikian. Akhirnya kita memutuskan istirahat lagi di jalur pendakian dan bikin makanan berat (nasi + mie instan indomie rebus telor andalan-que). Kali ini makan agak banyak karena efek dengkul ketemu dada. Setelah kampung tengah (re: perut) cukup kenyang, kita lanjutin perjalanan dan ketemu yang namanya Tanjakan Setan (whattt???). Tenang gaes, bukan berarti disini banyak setannya. Dinamain Tanjakan Setan karena ini jalur batu yang tanjakannya super duper nanjak (kemiringannya sekitar 70%) dan cara naiknya pake tali tambang yang kebetulan udah tersedia disitu. Sebenernya ada opsi lain kalo lo ga mau lewat Tanjakan Setan ini, yaitu lewat jalur biasa yang muterin si Tanjakan Setan ini. Tapi berhubung gw udah males ketemu anak tangga dengkul ketemu dada lagi, gw putuskan naik lewat Tanjakan Setan ini.
Beres lewat Tanjakan Setan, jalur pendakian relatif sama (dengkul ketemu dada). Alhamdulillah, puncak makin kelihatan. Tapi penderitaan belum berakhir gaes, jalur menuju puncak ini bukan jalan berbatu lagi, tapi jalur kerikil2 kecil. Jalan 5 langkah, berhenti ambil napas, begitu seterusnya. Sampai akhirnya, tepat jam 16.30 kita sampai di puncak, spot tempat kita camp. Dan pemandangannya, Subhanallah, Maha Besar Allah dengan Segala yang Dia Ciptakan!
Jalur kerikil berpasir menuju puncak
Puncak Gunung Gede, 2958 mdpl
Note:
1. "FYI, lebah yang mengitari gw berhenti mengitari gw waktu di puncak. Besoknya, waktu gw turun dari puncak ke jalur yang sama (Jalur Cibodas), lebah itu datang lagi dan mengitari gw lagi. Wallahu'alam bishawab."
2. Kejadian pendakian ini terjadi tahun 2015 dan gw "melanjutkan" tulisan ini di tahun 2018. Mohon maaf kalau foto cuma seadanya ya :D
Sumber: Pemikiran gw yang tidak seberapa.



0 komentar: